Salah satu yang menyita perhatian saya adalah sebuah bangunan berbentuk kapal. Itu adalah aula. Bisa bikin event di aula itu.
Kabarnya beberapa waktu lalu, disewa oleh sebuah organisasi olahraga untuk sebuah kegiatan. “Itu spanduknya belum sempat dilepas,” kata seorang pelayan yang begitu ramah menjawab.
Uniknya aula berbentuk kapal itu dibangun di atas kolam. Maka, terasa seperti sedang berlayar. Ruangan cukup luas. Ada meja dan kursi. Lantai satunya bisa muat 50 orang dan lantai 2 bisa 40 orang. Dari “kapal” ini akan tampak perbukitan dan kebun-kebun.
Sayangnya, saya tidak bisa makan di “kapal” karena sedang digunakan. Tapi, ada spot foto yang menarik di sekitar kapal itu. Begitulah ulasan singkat mengenai suasana di La Toratima.
Sekitar 10 menit saya duduk, pelayan pun datang membawa makanan dan minuman yang saya pesan. Melihatnya disajikan di atas meja, lapar langsung menyergap. Saya sampai lupa abadikan dengan foto di kamera ponsel. Semoga nanti bisa ke sana lagi dan saya foto untuk pembaca ReferensiA.id.
Soal harga, cukup terjangkau dibandingkan beberapa resto di kota. Satu paket hanya Rp135 ribu. Sudah cukup membuat kenyang.
Paketnya berupa satu kilogram ikan mujair bakar atau goreng (kira-kira lima ekor), satu bakul nasi, kangkung cah atau sup, sambel dua macam, dan air mineral.
Saya pesan ikan bakar. Soal rasanya nanti akan saya ulas pada tulisan berikutnya. Yang pasti daging ikannya begitu lembut dengan sambel yang pedasnya pas di lidah.
Ada juga menu ayam kampung. Boleh pesan paket satu ekor. Bisa juga pesan bukan paket, tentu harga lebih murah. Tersedia pula aneka minuman.
Saya masih duduk di gazebo sambil menulis artikel ini, sambil menikmati segelas kopi hangat. Sampai di sini dulu ReferensiA memberikan ulasan. Dan, sampai jumpa di resto berikutnya. RED
