Dia membentuk tim, mendatangi pelosok-pelosok desa di Sulawesi Tengah dan mengadakan literasi keuangan bagi masyarakat, khusunya perempuan.
Berdasarkan catatan ReferensiA.id, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan di Sulteng hanya 56,36 persen, dengan indeks inklusi keuangan berada pada angka 78,44 persen.
Data itu menunjukkan hampir setengah masyarakat Sulawesi Tengah belum mendapatkan literatur terkait keuangan.
Ice pun membenarkan. “Masyarakat yang kita datangi memang tidak teliterasi. Bahkan mereka tidak mampu membedakan uang pribadi dan uang usaha. Mereka tidak mampu mengelola keuangan,” jelas Ice.
Olehnya, melalui Hannah Asa Indonesia ia bersama tim berupaya memberikan literasi yang cukup bagi masyarakat di sejumlah pelosok desa di beberapa Kabupaten di Sulawesi Tengah, termasuk di wilayah Lembah Bada, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso.
“Berdasarkan survei Hannah Asa Indonesia, sebagian besar masyarakat terkena financial stress. Mereka ada yang tidak bisa membedakan harga pokok produksi dan harga jual, membedakan keuangan produksi dan hasil,” ungkap Ice.
Dia berharap, dengan literasi keuangan yang diberikan bisa membuat masyarakat di desa lebih paham cara mengelola keuangan dengan baik. Sehingga masa depan setiap masyarakat bisa lebih sejahtera.
Untuk memuluskan upaya memberikan literasi keuangan ke masyarakat di pelosok desa, Hannah Asa Indonesia bahkan menjalin kerja sama dengan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Sulawesi Tengah.
Hannah Berawal dari Pesan Mendiang Ibu, Berdiri dari Hasil Tabungan
Langkah Ice untuk mengedukasi masyarakat soal bagaimana mengelola keuangan dengan baik berawal dari pesan mendiang ibunya.
Saat itu, Ice yang masih bekerja di luar daerah meninggalkan orang tuanya yang menetap di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ia lalu mendapatkan kabar sang ibu sedang sakit.
