Iklan hari Kartini DPRD Sulteng

Cerita Pantarlih Berjalan Selama 6 Jam Hingga Nyaris Disumpit, Lakukan Coklit di Pedalaman

Pantarlih
Pantarlih sedang melakukan pencocokan dan penelitian data warga. / Ist

ReferensiA.id- Demi menjalankan tugas, nyawapun jadi taruhan. Begitu kira-kira yang dilakukan oleh para petugas atau Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih) yang harus mendatangi daerah-daerah rawan dan berada di pedalaman.

Hal itu dirasakan oleh Pantarlih TPS 6, Desa Palasa Lambori, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah dalam melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit).

Mereka harus melakukan perjalanan yang menantang untuk mendatangi warga yang masuk dalam daftar TPS 6, di Dusun Tampe. Wilayah yang didatangi harus melintasi medan jalan menanjak, yang kemiringannya mencapai 45 sampai 60 derajat, hingga ke titik pencoklitan.

“Jaraknya memang tidak terlalu jauh, sekitaran 20 kilometer. Namun kondisinya yang menanjak, sehingga harus dicapai dengan durasi 6 jam perjalanan, jalan kaki,” ungkap Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Parigi Moutong Moh Misbahudin kepada ReferensiA.id, Rabu 1 Maret 2023.

Pria yang akrab disapa Misbah itu ikut melakukan monitoring langsung pencoklitan di dusun tersebut.

Dia menceritakan, rombongan yang terdiri dari Pantarlih dan tiga orang PPS Desa Palasa Lambori dan seorang PKD atau pengawas desa, bertolak dari desa induk pada pukul 18.00 Wita, kemudian merayap di tanjakan, dan baru tiba pada pukul 23.58 Wita.

Karena jalurnya mendaki dan melingkar, wilayah yang didatangi dengan ketinggian sekitar 800 MDPL, cukup menguras tenaga mereka.

Beruntung, kata Misbach, cuaca cerah, dengan hembusan angin lembah yang sejuk.

Bukan hanya harus bergumul dengan rasa lelah, mereka juga harus dihadapkan dengan tantangan lain dalam perjalanan tersebut.

“Rombongan nyaris kena sumpit warga, yang sedang berburu babi hutan, yang curiga dengan kedatangan rombongan, ke SDK, yang menjadi tempat menginap,” ungkap Misbach.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google NewsIklan Bawaslu Morowali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *