“Kita akan melatih bagaimana standar produk itu diterima di luar, bagaimana cara mengakses pasar global, dan bagaimana cara mengakses permodalan,” ujar Karding.
Program tersebut akan diarahkan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan dari masing-masing daerah di Sulawesi Tengah.
Selain durian dan sarang burung walet, sejumlah komoditas seperti ikan, kelapa, kakao, dan komoditas potensial lainnya akan dipetakan untuk dikembangkan sebagai produk ekspor.
Anwar Hafid menyambut baik rencana pembentukan Klinik Ekspor tersebut. Menurutnya, program tersebut dapat menjadi instrumen penting untuk menghubungkan potensi komoditas daerah dengan pasar internasional.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kata dia, akan mendorong pengembangan komoditas berdasarkan potensi masing-masing kabupaten dan kota.
Kabupaten Poso dan Parigi Moutong, misalnya, memiliki potensi besar pada komoditas durian. Sementara daerah lain memiliki keunggulan pada kelapa, kakao, perikanan, sarang burung walet, dan komoditas lainnya.
“Semua bupati yang hadir punya potensi masing-masing,” kata Karding dalam kesempatan tersebut.
Pendekatan berbasis klaster daerah ini diharapkan membuat program ekspor lebih terarah, mulai dari produksi, standardisasi, pembiayaan, pengemasan, logistik hingga akses pasar.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, Anwar optimistis UMKM Sulawesi Tengah dapat semakin berani mengambil peluang pasar internasional.
“Kita mau Sulawesi Tengah ini terkenal. Bukan cuma di nasional, tapi di internasional,” tegas Anwar.
Deklarasi Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem ekspor dari Sulawesi Tengah.
Dari Bumi Tadulako, semangat yang dibangun adalah satu: UMKM naik kelas, produk lokal mendunia, dan ekonomi Sulawesi Tengah semakin kuat. ***



















