Iklan HUT Morowali PT Vale

Orasi Ilmiah di Wisuda UIN Datokarama, Nilam Sari Lawira : Kembalilah ke Desa

Nilam Sari Lawira
Ketua DPRD Sulteng Nilam Sari Lawira saat menyampaikan orasi ilmiah pada kegiatan wisuda UIN Datokarama Palu. / Ist

ReferensiA.id- Ketua DPRD Sulawesi Tengah Dr Hj Nilam Sari Lawira SP MP mengajak alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu membangun desa, menyemai pertanian digital, dan membentenginya dengan pendidikan agama.

Nilam Sari Lawira yang berlatar pendidikan Ilmu Pertanian menyatakan seruan itu saat memberikan orasi ilmiah di hadapan 741 wisudawan dan wisudawati Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, di Jodjokodi Convention Centre (JCC) Jalan Moh Yamin Palu, Kamis 22 September 2022.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sulteng Sebut Tiga Strategi Tingkatkan Partisipasi Perempuan pada Pemilu 2024

Tampil dengan balutan semi jas krem berbahan batik Bomba, Nilam Sari berorasi selama hampir satu jam.

Salah satu yang ditekankan adalah perlunya sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah berwujud dalam bentuk “memadukan kepentingan memenangkan kehidupan”.

Menurutnya, kiprah dan sumbangsih pemikiran civitas akademika UIN Datokarama menjadi modal sosial tak ternilai bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sulawesi Tengah.

Baca Juga:  Nilam Sari Lawira: Dari Dosen Jadi Legislator Hingga Komando Panglima

Pada akhir orasinya, Nilam Sari memberikan pesan kepada wisuda dan wisudawati UIN Datokarama, Palu agar membangun desa.

”Kembalilah ke desa, karena masa depan Indonesia, ada di desa,” ujarnya. Dia melanjutkan, “Sulteng masih mempunyai 686 desa dari 1.842 desa yang blank spot,”.

Nilam Sari juga berpesan agar membentengi desa dengan pendidikan agama. Sebab, kata dia kehancuran masyarakat Tiongkok di masa lalu dilakukan oleh Inggris melalui penyebaran candu, Napza yang menghancurkan generasinya.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sulteng Bercucuran Air Mata di Acara Syukuran Masyarakat Petobo

Ketua DPW Nasdem Sulteng ini melanjutkan, kejadian itu tidak diinginkan terjadi di negara kita, maka beramai-ramai kembali ke desa menyemai pertanian digital dengan prinsip “makan apa yang ditanam, tanam apa yang hendak dimakan”.