News  

Premanisme Berkedok “Petani Lada” di Hutan Lindung Loeha Raya, Petugas Kemenhut Diintimidasi dan Diusir

Aksi premanisme intimidasi petugas Kemenhut di Loeha Raya
Petugas Kemenhut mendapatkan intimidasi dan pengusiran oleh kelompok yang mengatasnamakan diri Asosiasi Petani Lada. / Ist

ReferensiA.id- Hukum dan wibawa negara di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Larona benar-benar dilecehkan. Bersembunyi di balik tameng sebagai “rakyat kecil” dan Asosiasi Petani Lada (APL), sekelompok massa anarkis nekat melakukan aksi premanisme jalanan dengan mengusir serta mengintimidasi sembilan petugas Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang sedang menjalankan tugas resmi di Desa Loeha, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Aksi brutal ini menambah daftar panjang rekam jejak hitam kelompok perambah hutan yang kian hari kian beringas menantang hukum negara demi mengeruk keuntungan pribadi secara ilegal.

Kejadian bermula saat rombongan massa beringas yang mengatasnamakan diri sebagai Asosiasi Petani Lada menggeruduk tempat menginap sembilan pegawai Kementerian Kehutanan menggunakan sejumlah mobil pikap.

Tanpa memedulikan aturan hukum, puluhan orang ini melakukan intimidasi dan menghentikan paksa seluruh aktivitas patroli kehutanan serta survei ekologi yang sedang berjalan.

Provokasi APL Bikin Petugas Negara Nyaris Celaka di Danau Towuti

Demi menghindari pertumpahan darah dan bentrokan fisik, para petugas kehutanan terpaksa mengalah dan memilih mundur.

Namun, kekejaman massa tidak berhenti di situ. Akibat pengusiran paksa tersebut, para petugas terpaksa dievakuasi menggunakan kapal feri sekitar pukul 18.00 sore di tengah kondisi cuaca ekstrem.

“Tim kami berangkat pagi, tapi pas sore mendapat aksi pengusiran. Mereka harus pulang sampai bermalam di atas kapal, terombang-ambing dengan kondisi ombak yang tinggi sekitar 1 meter karena angin kencang di Danau Towuti,” ungkap salah satu pegawai Kementerian Kehutanan dengan nada kecewa.

Para aparatur negara ini terkatung-katung semalaman di atas air dan baru bisa bersandar di Pelabuhan Timampu pada pukul 06.00 pagi keesokan harinya.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News
Exit mobile version