Sampah yang terkumpul kemudian diolah melalui fasilitas pemilahan (Segregation Plant) yang menangani 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik per hari.
Sebanyak 500 hingga 700 kilogram per hari diolah menjadi kompos, sementara sebagian lain dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF yang menguraikan sisa organik secara efektif.
Maggot yang telah dewasa kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan, menciptakan siklus ekonomi sirkular dari sampah.
Sampah anorganik bernilai seperti plastik, botol kaca, dan scrap besi disalurkan ke bank sampah dan BUMDes. Total donasi mencapai empat ton sampah terpilah per tahun.
Untuk mendukung keseluruhan ekosistem ini, perusahaan mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah lebih dari Rp700 juta per tahun.
Kehadiran PT Vale di forum ini merupakan cerminan dari apa yang telah dibangun perusahaan selama bertahun-tahun di Sorowako: sebuah ekosistem pengelolaan sampah terpadu yang menghubungkan tiga kelompok, yaitu karyawan, komunitas, dan pemerintah daerah.
“Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep — ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah. Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan, dan ini adalah bukti kami,” ujar Bernardus Irmanto, Presiden Direktur PT Vale Indonesia dalam keterangannya, Kamis 11 Juni 2026.
Partisipasi PT Vale dalam pameran ini selaras dengan agenda Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) dan visi Indonesia Emas 2045 dalam koridor Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai perusahaan tambang nikel terkemuka di Indonesia, PT Vale berkomitmen untuk terus menjadikan operasionalnya sebagai rujukan praktik keberlanjutan, dengan target nol sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) pada 2050. ***
