Sebaliknya, pendidikan dan pemberdayaan menjadi kunci. Inisiatif untuk mendukung UMKM perempuan, program pelatihan untuk generasi muda, hingga upaya membangun infrastruktur sosial seperti posyandu dan sekolah menjadi bukti bahwa pembangunan bisa bersifat manusiawi jika dilakukan bersama.
“Yang kami butuhkan bukan belas kasih, tapi kemitraan yang adil,” ujar Fatmawati sambil menatap hamparan kebun kecilnya.
Menanam Harapan di Tanah Sendiri
Di tengah beragam suara, satu hal yang pasti: masyarakat Loeha Raya adalah penjaga tanah mereka sendiri. Mereka tahu kapan harus berkata cukup, tapi juga tahu kapan harus membuka ruang baru untuk harapan.
Bagi mereka, masa depan tidak harus menjadi pilihan antara lada atau tambang, antara tradisi atau teknologi—tapi tentang bagaimana semua pihak bisa bekerja sama menjaga keseimbangan.
Dan mungkin, dari Loeha Raya, kita belajar bahwa keberlanjutan sejati dimulai dari kesediaan untuk saling mendengarkan. ***
