Tumbuh Bersama: Jejak Pemberdayaan PT Vale di Sekitar Tambang

PT Vale
Petani padi organik binaan PT Vale Indonesia. / Dok ReferensiA.id

Catatan ReferensiA.id, salah satu kisah paling menggugah datang dari lapangan nursery reklamasi pasca-tambang. Bukan hanya soal menanam kembali vegetasi, tetapi bagaimana proses itu memberi lapangan kerja bagi warga, sekaligus menumbuhkan rasa “kembali kepada alam” yang pernah terpampang hanya di atas kertas rencana reklamasi. Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat untuk membangun masa depan pasca-tambang yang berkelanjutan.

Program pertanian organik dan intervensi gizi serta edukasi kesehatan telah bergulir dengan pendekatan yang akrab—bukan paternalistik. Masyarakat tidak diajari, melainkan diberdayakan: difasilitasi keterampilan untuk bercocok tanam organik, mendapat pendampingan model bisnis adaptif, hingga akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau.

Salah satu pilar paling inovatif adalah Livelihood Restoration Program (LRP). Bayangkan sebuah komunitas nelayan yang kini bisa diversifikasi usahanya, atau kelompok tani yang mengolah hasil panennya jadi produk olahan—semuanya bersandar pada pelatihan, pendampingan bisnis, penyediaan sarana produksi, hingga akses pasar yang dibangun oleh PT Vale.

“Sebagai perusahaan pertambangan berkelanjutan, PT Vale Indonesia tidak hanya hadir sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai mitra pembangunan. Melalui Livelihood Restoration Program, kami memastikan bahwa proses transformasi kawasan industri tetap inklusif dan memberdayakan masyarakat sekitar,” ujar Manager External Relations IGP Pomalaa, Hasmir beberapa waktu lalu.

Tak mengherankan jika banyak masyarakat penerima manfaat telah merasakan langsung dampaknya: peningkatan keterampilan, meningkatnya pendapatan, dan usaha lokal yang makin kuat dan tahan banting.

Tak hanya berbicara di ruang pertemuan, langkah-langkah ini didorong dari sisi operasional. Proyek besar seperti Indonesia Growth Project (IGP) Morowali—dengan progres konstruksi mencapai 83,69% per Juni 2025—dirancang sedemikian rupa agar kebutuhan masyarakat lokal tidak terabaikan. Di balik pembangunan infrastruktur pelabuhan, akses jalan, dan sistem pengujian peralatan mutakhir, terselip niat tulus agar masyarakat setempat tumbuh bersama.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News
Exit mobile version