ReferensiA.id- Sebuah rekaman video memperlihatkan seorang pendemo tolak berjabat tangan dengan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid yang didampingi Bupati Tolitoli, Amran H Yahya, viral di sosial media.
Rekaman itu menuai berbagai tanggapan. Ada yang menyoroti etika pendemo, ada pula yang mengomentari reaksi Gubernur Sulteng dan Bupati Tolitoli.
Dalam video itu, tampak Gubernur Sulteng, Anwar Hafid bersama rombongan menghampiri sejumlah pendemo yang sedang berunjuk rasa menolak pertambangan emas ilegal (Peti), Kamis 4 Juni 2026, di Tolioli.
Anwar Hafid tampak menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan salah seorang pendemo yang menggunakan atribut khas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun pendemo tersebut mengabaikan ajakan berjabat tangan itu, seraya menyampaikan tujuan mereka adalah untuk menyampaikan tuntutan.
Meski demikian, sang demonstran akhirnya mau berjabat tangan dengan Gubernur Anwar Hafid. Gubernur yang tampak kecewa sempat menunjuk ke arah demonstran itu, sementara Bupati Tolitoli bereaksi lebih keras dan sempat bersitegang dengan massa aksi.
Video yang tersebar di berbagai platform sosial media itu pun menuai berbagai tanggapan. Salah satunya berasal dari Ketua Presidium Keluarga Besar Hijau Hitam Sulteng, Andi Ridwan Bataraguru.
Menurut dia, aksi mahasiswa menuntut penertiban pertambangan emas ilegal serta penanganan kerusakan lingkungan direspons secara emosional dan intimidatif oleh dua pejabat, Gubernur Sulteng dan Bupati Tolitoli.
“Sikap tersebut tidak mencerminkan kebijaksanaan seorang kepala daerah
yang mestinya wajib melindungi warganya, apalagi menyampaikan pendapat sebagai hak konstitusional,” katanya, Sabtu 6 Juni 2026.
“Mahasiswa yang hendak menyampaikan tuntutan bahkan dipaksa untuk berjabat tangan,” dia menambahkan.
