Sementara itu, Perwakilan UN-Women, Yulies Puspita Ningtias dalam materinya, menjelaskan konsep women, peace and security (WPS).
Dia menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga perdamaian. Namun masih banyak bagian yang membuat perempuan belum merasa aman, sehinga perlu kebijakan sebagai upaya untuk memenuhi kemamanan dari perempuan.
“Perempuan juga masih membutuhkan keamanan, serta turut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian di berbagai negara yang saat ini berusaha membangun perdamaian,” ujarnya.
Saat ini UN-Women dan mitranya mengimplementasikan program pemberdayan perempuan di tiga lokasi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Tiga wilayah tersebut memiliki satu kesamaan yaitu terkait ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.
“Tiga lokasi tadi memiliki kesamaan lain yaitu pemenuhan rasa aman dari perempuan. Baik itu dari kekerasan ekonomi, dan kekerasan seksual,” ungkap Yulies.
Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pengurus Karsa Institute, Rahmad Saleh, menerangkan, Sulteng memiliki kerentanan konflik horizontal, dan ketika konflik itu terjadi, perempuan menjadi rentan atas kejadian tersebut. Contohnya, banyak usaha kecil yang tidak bisa berlanjut ketika terjadi konflik. Sehingga mempengaruhi perekonomian.
Melalui kolaborasi Care dan UN-Women, Karsa Institute bekerja untuk mengurangi tingkat kerentanan terhadap perempuan ketika terjadi konflik horizontal, sekaligus memperbaiki pemahaman mengenai gender yang kerap kali berakhir merugikan.
“Karsa memberikan penguatan pemahaman gender untuk memingkatkan pemahaman tentang kesamaan gender termasuk pada laki-laki,” kata Rahmad
Secara terpisah, Ketua AJI Kota Palu, Agung Sumandjaya mengungkapkan kegiatan pelatihan ini diberikan kepada jurnalis yang ada di Sulteng ini sangat tepat. Sangat jarang ditemukan pemberitaan yang memang berperspektif gender di media-media lokal di Sulteng saat ini.
