Dr Johny Salam Dalam Kenangan

Dr Johny Salam
Dr Johny Salam semasa hidupnya. / Ist

Sebagaimana dalam tradisi filsafat klasik, seorang guru dipandang sebagai mata rantai pengetahuan yang menghubungkan generasi. Seperti Socrates yang melahirkan Plato, seperti Plato yang kemudian melahirkan Aristoteles, seorang guru sejati tidak hanya mengajar teori, tetapi mewariskan cara berpikir dan keberanian moral.

Dr Johny adalah sosok yang menyambungkan tradisi itu di tanah Tadulako. Ia tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga menanamkan keberanian untuk mempertanyakan.

Ia tidak hanya mengajarkan aturan hukum, tetapi juga menegaskan bahwa hukum tanpa moral adalah tubuh tanpa jiwa.

Kematian beliau mengingatkan kita bahwa setiap guru pada akhirnya akan berpulang, tetapi warisan nilainya akan terus hidup. Dalam hukum, dalam ruang kuliah, dalam percakapan para muridnya, dalam keputusan-keputusan kecil yang diilhami oleh ajarannya.

Saya menutup tulisan ini dengan perasaan yang berlapis-lapis. Ada duka karena kehilangan yang mendalam, ada rindu karena tak akan lagi bisa berbincang hangat dengannya, dan ada syukur karena pernah diberi kesempatan belajar dari seorang guru sejati.

Kepergian beliau bagaikan cairnya salju di musim semi. Salju di tanah tropis ini hanyalah rindu yang membeku, dingin yang menusuk jiwa di antara bayang cinta dan karya yang telah Pak Johny tinggalkan.

Pak Johny, bapak telah berpulang, meninggalkan kami para murid bersama sendu dalam petikan rindu. Namun, sebagaimana daun yang gugur lalu menjadi pupuk bagi kehidupan baru, demikian pula ajaran dan kasih sayangmu, Pak Johny.

Ia tidak berhenti pada batas kehidupan fisik, melainkan terus berlanjut, menyuburkan benih-benih pemikiran, pengetahuan, dan cinta dalam hati kami yang pernah Engkau sentuh.

Sesungguhnya, tiada kematian dalam arti yang sejati. Tubuh hanyalah kembali ke tanah, berpadu dengan semesta, sementara ilmu, semangat, dan kebaikan bapak akan terus hidup dalam jiwa kami.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News
Exit mobile version