Bangunan setengah jadi dengan tiang-tiang kokohnya mulai dijalari tumbuhan liar. Kangkung liar juga memenuhi sekitaran bangunan yang tampak lebih mirip dengan rawa.
Melihat kondisi itu, Anggota DPRD Palu yang berkunjung mengaku prihatin. Apalagi mal tersebut merupakan salah satu ikon perbelanjaan Kota Palu yang sebelumnya cukup banyak menyerap pekerja lokal.
“Karena ini ikon, yang perlu untuk dilakukan duduk bersama kembali. Membicarakan kembali bagaimana agar proyek ini bisa jalan,” ujar Anggota DPRD Palu Mutmainah Korona.
“(Pansus) LKPJ mempertanyakan kenapa sampai sekarang Mal Tatura mangkrak. Nanti ini jadi rekomendasi kita, siapa di DPRD yang bisa untuk tindak lanjuti,” katanya.
Dia bilang, salah satu masalah yang menyebabkan belum adanya investor yang masuk adalah terkait persoalan bisnis dengan pemilik saham. Pemerintah Kota Palu disebut mempertahankan nilai saham dominan dan hanya memberikan pengelolaan bagi investor, tidak terlibat pada urusan direksi.
“Pemkot tidak salah juga terkait dengan upaya menjaga berapa persen saham. Karena beberapa investor ingin mengintervensi saham. Kalau dia bicara bisnis, sebenarnya sudah selesai,” jelas Mutmainah.
“Pansus akan mendorong penyelesaian terbengkalainya pembangunan Mal Tatura,” tandasnya.
Pihak PT CNE yang menaungi Mal Tatura juga mengakui sejuah ini telah ada investor yang berminat mengucurkan dana untuk biaya pembangunan ulang bangunan mal, namun belum ada titik temu antara pihak investor dengan pemerintah Kota Palu sebagai pemilik saham. RED
