Di Sulawesi Tengah, potensi besar terdapat pada sektor pertanian, perikanan, kelautan, kebencanaan, lingkungan hidup, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
“Sulawesi Tengah adalah wilayah yang kaya sumber daya alam, namun juga rawan bencana dan memiliki tantangan pembangunan yang khas. BRIN perlu hadir lebih nyata melalui riset terapan, inovasi tepat guna, serta pendampingan berbasis sains yang dapat langsung menjawab persoalan masyarakat di daerah,” tegasnya.
Nilam juga memberikan beberapa masukan strategis untuk kinerja BRIN Tahun 2026, antara lain, penguatan riset berbasis kebutuhan daerah, dengan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi lokal, dan komunitas masyarakat.
Selain itu, ia juga menyarankan perluasan program riset kebencanaan, khususnya untuk wilayah rawan gempa, tsunami, dan bencana alam lainnya seperti Sulawesi Tengah.
Lalu pengembangan inovasi pertanian dan pangan lokal, guna mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani. Peningkatan akses dan keberpihakan terhadap peneliti daerah, termasuk generasi muda dan perguruan tinggi di luar Pulau Jawa, serta hilirisasi riset yang terukur dan berkelanjutan, agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat.
Menutup penyampaiannya, Nilam Sari Lawira menegaskan komitmen Komisi X DPR RI, khususnya dirinya sebagai wakil rakyat dari Sulawesi Tengah, untuk terus mendorong kebijakan riset nasional yang inklusif, berkeadilan wilayah, dan berorientasi pada pembangunan manusia serta kesejahteraan rakyat.
“Riset dan inovasi harus menjadi instrumen pemajuan daerah, bukan hanya terpusat di kota besar. BRIN memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa sains dan teknologi benar-benar hadir hingga ke pelosok negeri,” pungkasnya. ***
