Waspada Kejahatan Finansial: OJK Sulteng Beri Literasi di Festival Tampo Lore 2025

OJK Sulteng
Megawati

“Banyak orang tergoda pinjol ilegal karena desakan kebutuhan dana, termasuk karena kecanduan judi online. Sementara investasi ilegal biasanya menjanjikan keuntungan tak wajar dalam waktu cepat melalui skema ponzi,” tambahnya.

Megawati mengungkapkan, sudah banyak masyarakat datang ke kantor OJK dalam keadaan putus asa.

“Banyak yang datang sambil nangis-nangis karena uangnya hilang. Setelah ditelusuri, ternyata mereka terjerat pinjaman online atau judi online,” ujarnya prihatin.

Ia menekankan, di era teknologi yang semakin maju, pelaku kejahatan ini memanfaatkan celah di teknologi finansial (fintech) untuk menjangkau korban secara lebih luas dan cepat.

Sebagai upaya pencegahan, OJK telah bekerja sama dengan Google untuk memblokir aplikasi keuangan ilegal. Namun, para pelaku terus beradaptasi dengan menggunakan platform lain, seperti Telegram, untuk tetap menjalankan aksi mereka.

Lebih lanjut, Megawati mengingatkan bahwa arus uang dari ketiga kejahatan ini rentan dimanfaatkan sindikat kriminal untuk pencucian uang dan pendanaan aktivitas ilegal lainnya yang merusak sistem keuangan formal.

Ia juga mengutip hasil survei inklusi keuangan di Sulawesi Tengah, yang menunjukkan bahwa 80 persen penduduk telah memiliki akses ke produk keuangan. Namun ironisnya, dari angka tersebut, hanya 30 persen yang benar-benar memahami literasi keuangan.

“Ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan, karena sebagian besar masyarakat tidak memahami risiko dan dampak dari penggunaan produk keuangan yang mereka pilih,” tegas Megawati.

Sementara itu, Direktur Relawan Orang dan Alam yang juga inisiator Festival Tampo Lore, Muhamad Subarkah, menjelaskan pihaknya sengaja menghadirkan OJK Sulteng sebagai narasumber. Tujuannya agar warga desa di kawasan Tampo Lore memahami potensi kejahatan keuangan, yang secara kualitas dan kuantitas semakin meningkat.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News
Exit mobile version