“Sulawesi Tengah juga merupakan daerah dengan potensi bencana yang tinggi. Tidak hanya bencana alam, namun juga bencana yang timbul akibat konflik antar warga yang terjadi,” sebut Agung.
Ketika bencana terjadi, perempuan justru luput dari pemberitaan media. Padahal di beberapa tempat, perempuan juga menjadi penggerak dalam melakukan resiliensi, baik itu ketika bencana alam terjadi ataupun saat terjadinya konflik warga.
“Perempuan seharusnya menjadi tokoh utama pula dalam pemberitaan kawan-kawan, yang selama ini selalu didominasi narasumber pria. Pemberitaan yang disajikan, juga jangan hanya dampak dari bencana atau konflik yang terjadi, tapi bagaimana menyajikan pemberitaan yang mengangkat sisi lain seperti perjuangan para perempuan menjadi penggerak di tengah masyarakat untuk keluar dari kesulitan tersebut,” tandasnya.
Tidak hanya membekali 12 Jurnalis dalam pelatihan saja, UN-Women dan AJI Indonesia akan menyediakan dana liputan bagi 2 orang jurnalis yang memiliki proposal liputan menarik terkait dengan pemberdayaan perempuan dan pemuda dalam perdamaian. ***
