Anak-anak di Sulteng Kampanyekan Aksi Dampak Krisis Iklim Lewat Pentas Seni

Krisis iklim
Anak-anak dan orang muda yang terlibat dalam pentas seni krisis iklim foto bersama usai kegiatan. / ReferensiA.id

“Belum lama ini, pada bulan September, kami merasakan curah hujan di daerah kami cukup panjang sehingga mengakibatkan sawah-sawah terendam banjir. Salah satunya di daerah saya, Desa Pakuli Utara, Kabupaten Sigi,” kata Riziq.

Dia menceritakan, curah hujan yang tinggi itu menyebabkan sungai yang ada meluap dan menghantam pemukiman warga. Banyak juga lahan pertanian warga yang berada di bantaran sungai terendam banjir, sehingga hasil pertanian seperti padi, jagung, tidak bisa dijual warga ke pasar.

“Hal itu menyebabkan tidak ada penghasilan yang didapatkan karena di daerah saya mayoritas pekerjaan masyarakatnya sebagai petani dan berkebun,” kata Riziq yang tergabung dalam Child Campaigner Sulawesi Tengah.

Kata Dewi, bsrangkat dari masalah-masalah lingkungan ini, Save the Children kemudian menggerakkan anak-anak di Sulawesi Tengah agar memiliki kesadaran yang kuat tentang bahaya krisis iklim.

“Misalnya, pada Mei lalu, kami memfasilitasi inisiasi anak dan orang muda yang tergabung dalam Child Campaigner Sulteng dan Forum Anak Labean untuk melakukan aksi bersih pantai dan tanam bakau di Pantai Mapaga, Kabupaten Donggala. Hari ini, mereka menginisiasi Pentas Seni Krisis Iklim di Palu,” jelas Dewi Sri Sumanah.

Sementara itu, dalam Pentas Seni Krisis Iklim tersebut, menampilkan musikalisasi puisi, pembacaan puisi dan monolog, serta diskusi mengenai krisis iklim bersama anak-anak.

Acaranya dilaksanakan dengan pendekatan kontemporer, diharapkan mampu menjadi cara baru untuk memperkuat peningkatan kesadaran terkait isu krisis iklim karena dikemas dengan hal-hal yang menarik.

“Melalui kampanye Aksi Generasi Iklim ini, kami berharap anak-anak yang melihat kampanye ini jadi lebih tahu tentang apa itu krisis iklim, bagaimana mitigasi dan adaptasi dari dampak perubahan iklim, dan tentunya anak-anak jadi lebih siap melewati tantangan dan rintangannya. Karena mungkin dampak krisis iklim ke depannya akan jauh lebih besar dirasakan oleh anak-anak,” jelas Riziq.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News
Exit mobile version