Sementara itu fasilitator pelatihan Eko Teguh Paripurno menyebut, apa yang dilakukan selama pelatihan adalah upaya yang dikemas agar peserta bisa belajar lebih cepat.
Namun ketika peserta kembali ke wilayah masing-masing untuk mempraktekkan apa yang didapatkan, merupakan pembelajaran yang sesungguhnya.
“Melalui pelatihan ini, masyarakat nantinya bisa mengelola risiko bencana yang ada, mulai dari merencanakan pembangunan yang baik, mencegah, memitigasi, sampai akhirnya mengelola, mengorganisasi hingga menginstruksi,” ujar Bang Et, sapaan akrab Eko Teguh Paripurno.
“Dan juga bisa melakukan penilaian ketangguhan desa (PKD). Semua inilah yang akan dilakukan bersama-sama nantinya,” ujarnya.
Eko Teguh Paripurno sendiri merupakan Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta dan aktif di Disaster Research, Education & Management (DREAM).
Hal serupa juga disampaikan Direktur Perkumpulan IMUNITAS Shadiq. Kata dia, program pengembangan program desa tangguh bencana berdasarkan prinsip Mojagai Katuvua atau menjaga alam saat ini sedang berproses di desa Bolapapau, desa Boladangko, desa Tangkulowi yang berada di Kabupaten Sigi, desa Alindau, desa Batusuya Go’o di Kabupaten Donggala dan Kelurahan Pantoloan Kota Palu.
“Sesuai dengan nama kegiatan yaitu pelatihan untuk pelatih, harapan kami bahwa para peserta nantinya akan menjadi pionir-pionir yang terdepan di desa untuk terus mendorong dan membangun upaya-upaya kesiapsiagaan di level desa dan kelurahan,” Ujarnya. GFT
