Saat ditemui, Yusuf bersama sejumlah anggota kelompok tani sedang melakukan panen padi organik jenis Mantik Susu.
Menurut dia, program pemberdayaan dari PT Vale itu sangat berdampak pada pendapatan masyarakat, khususnya petani yang telah menerapkan metode bertani yang tidak hanya memberikan keuntungan dari segi ekonomi, tapi juga kesehatan itu.
“Kalau pertanian konvensional kita kan banyak menggunakan pupuk kimia, semprot rumput dan kali ini semua tidak digunakan lagi, tapi mengandalkan pupuk dan pembasmi hama alami dengan bahan-bahan yang ternyata banyak di sekitar kita,” tuturnya.
Karena terbilang sukses meningkatkan jumlah produksi dan menekan biaya, kini kelompok tani organik binaan PT Vale terus bertambah jumlahnya. Yang sebelumnya hanya diminati segelintir orang, kini mulai dilirik oleh lebih banyak petani.
Kelompok tani di Desa Kolono misalnya, mereka yang ikut dalam program pengembangan tani organik itu awalnya hanya berjumlah 5 orang, kini telah bertambah menjadi 21 petani.
PT Vale sudah melakukan pendampingan terhadap sejumlah kelompok tani dari beberapa desa di wilayah Morowali, seperti di Desa Ululere, Bahomotefe dan Bahomoahi.
Sayangnya, saat ini para petani yang bergabung dalam upaya pengembangan SRI Organik itu belum mampu memenuhi permintaan pasar beras dari hasil panen sawah organik. Sebagian besar hasil panen mereka jual untuk kebutuhan PT Vale.
Sementara itu, PT Vale setidaknya telah mengalokasikan Rp46 miliar lebih untuk program corporate social responsibility (CSR) selama 2015 hingga 2022.
Anggaran itu digelontorkan di 17 desa pemberdayaan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Salah satu program sosial PT Vale adalah melakukan pendampingan kelompok tani di sana. RED
