Selain itu kata Pires, program Petra Digital dengan Kominfo, Pemuda Katolik juga sudah melakukan kerjasama dengan lembaga pemerintahan maupun swasta seperti Kerjasama dengan BUMN terkait Pertashop kita sudah punya 7 unit pertashop , kerjasama dengan BP2MI terkait Pekerja Migran Indonesia yang sudah di jalankan di 3 titik mulai dari Batam, Kepulauan Riau, Mataram, NTB dan Sumba, NTT, Kerjasama dengan BKKBN terkait stunting, Kerjasama dengan Kementerian Desa terkait Aplikasi Desa Terhubung, kerjasama dengan _E_commerce GoTo_ (Gojek Tokopedia) yaitu Petrapreneurship terkait kewirusaahan Pemuda Katolik melalui program Go Nusantara.
“Kita juga melakukan pengembangan usaha seperti Petra Natural terkait produk-produk organik seperti parfum, body wash, body mist, dan sebagainya, kita juga menggagas Bank Sampah Petra yang berbasis di Banten dan sudah dikembangkan di beberapa Komda di Indonesia,” ujarnya.
“Semua ini kita lakukan sebagai terobosan dalam mengembangkan organisasi yang lebih mandiri karena kita sadari betul bahwa kita sebagai organisasi non profit tentu untuk melaksanakan kegiatan membutuhkan logistik dan operasional lainnya,” ujarnya.
Pada kesempatan itu juga Pires menyebutkan, bahwa dalam kepengurusan periode ini mengusung spirit reborn and grow further. Salah satunya dengan membuat pemetaan terhadap kader-kader dalam 6 kluster yaitu kluster ASN, pebisnis, jurnalis, lawyer, politisi dan akademisi.
“Dengan demikian akan lebih mudah dalam penempatan kader terbaik untuk dapat mendukung kerja-kerja pelayanan demi kesejahteraan masyarakat. Untuk saat ini, kita sedang melakukan transformasi terhadap potensi-potensi kader Pemuda Katolik di seluruh Indonesia termasuk rekan-rekan anggota dan pengurus Pemuda Katolik di Komda Sulteng,” tuturnya.
