Menurut Ismawati, edukasi di area terdekat dari ekosistem mangrove dapat memberikan pemahaman konkret tentang pemeliharaan kawasan pesisir.
Selain itu, peserta didik dapat mulai mengerti dengan baik manfaat tumbuhan dari genus rhizophora tersebut, seperti mencegah intrusi air laut dan tempat penyimpanan karbon dioksida (CO2).
“Kegiatan edukasi sangat penting bagi anak-anak karena selaras dengan program pembelajaran kurikulum sekolah. Mereka dapat belajar tidak hanya di kelas tetapi secara langsung mengenal penanaman dan pemeliharaan,” kata Ismawati.
Kolaborasi CSR PT IMIP Bersama Pemerintah Desa Terapkan Ekonomi Hijau
Selain dengan tenant, kegiatan edukasi serupa juga berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Fatufia.
Staf Community Development CSR IMIP, Agus Sepriyanto, mengatakan, pemahaman tentang upaya pelestarian area pesisir merupakan langkah hijau yang perlu ditanamkan sejak dini, khususnya dengan menanam bakau dan tidak membuang sampah di laut.
“Selain bagi anak-anak, juga kita semua yang telah lebih dulu mengenal mangrove perlu terlibat aktif. Mari menjaga dan melestarikan ekosistem tanaman ini untuk kehidupan lebih baik,” ajak Agus.
Sebagai rangkaian program konservasi pesisir, kegiatan edukasi akan dilanjutkan dengan penanaman 1.000 bibit mangrove bersama karyawan PT DSI, Tim CSR dan Environmental PT IMIP serta “Sama Serumpun”, kelompok warga pembibit dari Dusun Kurisa.
Ke depan, komunitas ini akan menjadi garda terdepan pembibitan pohon bakau di wilayah tersebut. Kegiatan itu akan dikembangkan menjadi salah satu aktivitas mata pencaharian warga.
“Peran utama mangrove tidak hanya menahan abrasi. Semoga program ini berkelanjutan dan banyak diikuti sebagai bentuk penerapan ekonomi hijau yang memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat,” harap Kepala Seksi Pemerintahan Desa Fatufia, Sandi. ***
