Dia pun memaparkan sejumlah strategi yang dapat dilakukan untuk peningkatan efek pertumbuhan ekonomi yang tinggi terhadap kesejahteraan, khususnya kemiskinan.
Kepala BI Sulteng itu “menawarkan” strategi jangka pendek dan jangka panjang yang perlu dilakukan oleh pemerintah.
Untuk jangka pendek, dia bilang perlu penguatan sinergi berbagai instansi atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam kerangka pengendalian inflasi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif) untuk menjaga tingkat inflasi berada pada level yang rendah dan stabil sesuai target yang telah ditetapkan, dalam rangka menjaga daya beli masyarakat tetap kuat.
“Salah satu program yang dapat ditindaklanjuti adalah optimalisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) baik intraprovinsi/antarkabupaten di Sulteng maupun antarprovinsi untuk memenuhi ketersediaan pasokan komoditas inflasi,” imbuhnya.
“Fasilitasi linkage yang lebih kuat antara sektor industri pengolahan dibutuhkan, khususnya industri logam dasar (Kabupaten Morowali dan Morowali Utara) dengan sektor pertanian di Sulteng.”
Aktivitas industri yang besar akan membutuhkan sumber daya yang besar, seperti kebutuhan makanan bagi para pekerja industri.
“Hal ini menjadi peluang besar bagi pelaku sektor pertanian untuk dapat mengisi permintaan pasokan tersebut dengan produksi lokal sehingga permintaan agregat untuk pertanian akan meningkat,” tandasnya.
Sementara strategi untuk jangka menengah, dia mendorong optimalisasi program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian (food estate/kawasan pangan nusantara) untuk memenuhi kebutuhan pangan yang besar, yang berasal dari kawasan industri di Sulteng maupun dari luar Sulteng seperti IKN.
