Sejalan dengan penurunan pengiriman pada triwulan tersebut, beban pokok pendapatan perseroan menurun dari AS$209,8 juta pada triwulan pertama menjadi AS$207,3 juta pada triwulan kedua 2024.
Penurunan total beban pokok pendapatan juga didukung oleh penurunan konsumsi bahan bakar dan batu bara pada triwulan kedua 2024, disertai dengan penurunan harga batu bara.
Memasuki semester kedua tahun ini, PT Vale akan terus proaktif mendorong inisiatif penghematan biaya untuk memastikan biaya tunai per unit tetap kompetitif dalam upaya menghasilkan margin yang sehat secara berkelanjutan.
Dengan perubahan komposisi pemegang saham baru-baru ini, perseroan melihat banyak ruang untuk memanfaatkan inisiatif strategis yang dapat membawa sinergi positif bagi perusahaan, seperti integrasi upaya pengadaan dalam grup untuk harga komoditas yang lebih baik di mana hal ini merupakan salah satu penggerak biaya terbesar perusahaan.
Harga rata-rata HSFO pada triwulan ini lebih tinggi 2% dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun kenaikan ini diimbangi oleh penurunan harga rata-rata diesel dan batu bara, yang masing-masing lebih rendah sebesar 2% dan 1% pada triwulan kedua 2024.
Meskipun adanya tantangan industri, perseroan mampu menghasilkan EBITDA positif sebesar AS$72,4 juta, menandai peningkatan 38% dibandingkan triwulan sebelumnya karena pendapatan yang lebih tinggi dan biaya pendapatan yang lebih rendah.
Selanjutnya, perseroan berhasil membukukan laba sebesar AS$31,1 juta pada triwulan kedua, menandai peningkatan signifikan dari triwulan
sebelumnya.
Laba ini muncul setelah memperhitungkan kerugian yang belum terealisasi sebesar AS$6,1 juta atas pengakuan nilai wajar aset derivatif (hak partisipasi dalam investasi perseroan di PT Kolaka Nickel Indonesia).
