Haji Adnan juga menyebut bahwa saat ini, salah satu potensi konflik yang masih ada dan menggejala adalah radikalisme dan terorisme. Ia percaya, dua ancaman di atas dapat menyasar siapa saja.
“Harus waspada, karena radikalisme dan terorisme kerap bersembunyi di balik ‘mimbar’ agama,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah, Arfan dalam diskusi dan bedah buku tersebut berharap, kisah perjuangan ini bisa menjadi contoh untuk seluruh lapisan masyarakat Sulawesi Tengah khususnya dan Indonesia pada umumnya.
“Poso adalah kota yang tenang. Warganya ramah, senyum dan sapa selalu tersungging di wajah mereka. Di kota ini, berbagai fasilitas publik tampak terus digenjot pembangunannya. Poso seolah tak mau tertinggal dalam derap pembangunan,” jelasnya.
Dalam diskusi dan bedah buku tersebut dihadiri Ketua MUI Kota Palu H Zainal Abidin, Ketua MUI dan PW NU Sulteng, Ustaz H Lukman S. Thohir, PW Muhammadiyah Sulteng, Muh. Khaeril, PB Alkhairaat, H Ridwan Yalidjama, dan Ustad Najih Arromadloni serta Bupati Sigi. ANG
