Kata dia, kejadian ini sangat mengkhawatirkan. Sebab sepanjang Teluk Palu hingga Tanjung Karang Donggala, dikenal sebagai tempat wisata maupun tempat mencari ikan para nelayan. Sementara lokasi itu telah menjadi wilayah lalu lintas buaya yang diduga berasal dari Sungai Palu.
“Hal ini perlu jadi perhatian Pemerintah Provinsi bersama BKSDA Sulawesi Tengah dalam penaganan satwa liar ini,” tegas pria yang akrab disapa Undeng.
“Data BKSDA Sulawesi Tengah hingga tahun 2022 ini tidak kurang dari 36 ekor buaya hidup di Sungai Palu, jumlah tersebut telah berkurang yang diperkirakan oleh tim pencinta reptile Panji Petualang mencapai 100 ekor, kendati demikian konflik antara buaya dan manusia masih cukup intens sejak 2019 hingga 2022,” jelasnya.
Bersamaan dengan situasi itu, bulan lalu Walhi Sulawesi Tengah juga telah dua kali diundang rapat dengar pendapat (RDP) oleh DPRD Provinsi Sulawesi Tengah bersama stakeholder terkait.
Saat RDP, Walhi pun telah mengusulkan agar pihak terkait mengadakan tempat penangkaran buaya, sekaligus melakukan penangkapan.
“Tetapi nampaknya belum terlihat bentuk penyelesaian dan aksi lapangan, berharap di masa datang tidak akan (ada) lagi korban akibat terkaman hewan predator berdarah dingin ini di peraian Palu maupun Donggala,” katanya. RED
