“Kita tidak bisa bicara pengelolaan tanpa penegakan hukum. Disiplin lingkungan harus dimulai dari individu hingga institusi. Gerakan ini membuktikan bahwa sinergi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dapat menghasilkan dampak nyata,” ujar Roy.
Bagi PT Vale, partisipasi dalam gerakan ini bukan sekadar kegiatan tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari filosofi keberlanjutan perusahaan yang menempatkan air sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Sebagai perusahaan tambang nikel yang mengandalkan energi 100% terbarukan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sulawesi Selatan, PT Vale memahami bahwa air bersih adalah fondasi dari keberlanjutan industri, masyarakat, dan lingkungan.
Melalui kolaborasi ini, Vale berupaya memperluas praktik terbaik dalam pengelolaan air dan konservasi lingkungan dari kawasan operasi ke ruang perkotaan — di mana tantangan sampah dan polusi air membutuhkan keterlibatan aktif lintas sektor.
“Air adalah sumber kehidupan, bukan hanya bagi tambang, tetapi juga bagi masyarakat. Gerakan ini sejalan dengan filosofi Vale bahwa setiap tetes air harus dijaga dan dikembalikan lebih bersih. Kami bangga menjadi bagian dari inisiatif KLHK dalam memperkuat budaya peduli sungai,” tutur Director & Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer (CSCAO), PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah.
Pekan ini, kegiatan akan terus berlanjut di wilayah Depok dan Jakarta Timur dengan agenda bersih sungai, pembekalan komunitas, dan sosialisasi aplikasi Peduli Lingkungan yang dikembangkan untuk memperkuat sistem pemantauan berbasis masyarakat.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model kolaborasi lintas pemangku kepentingan (public–private–community partnership) yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
