Penghuni terdiri dari konsultan proyek (Tripatra) serta tim internal Vale yang berperan sebagai penggerak utama proyek strategis ini.
Menurut Head of Sorlim, Suharpiyu Wijaya, Limoloka adalah simbol bahwa proyek industri strategis dapat membangun nilai kemanusiaan.
“Ketahanan energi nasional dimulai dari manusia yang bekerja di belakangnya. Limoloka bukan hanya tempat tinggal, tapi ruang kolaborasi dan pertumbuhan bersama. Kami ingin memastikan mereka yang membangun fondasi hilirisasi nikel bekerja dalam lingkungan yang mendukung produktivitas, keselamatan dan inovasi,” kata Suharpiyu.
Nama Limoloka berasal dari LIMO (limonit, jenis bijih nikel laterit) dan LOKA (Sansekerta: tempat kehidupan), yang merepresentasikan wilayah kehidupan yang lahir dari tambang—rumah sementara bagi insan lintas fungsi dan budaya yang bekerja untuk mendorong transisi energi bersih.
Chief Project Officer PT Vale, Muh Asril menegaskan, Limoloka adalah bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
“Hilirisasi tidak hanya bicara teknologi dan pabrik, tapi juga kesiapan sumber daya manusianya. Dengan fasilitas seperti Limoloka, kami memastikan bahwa setiap elemen ekosistem—dari teknologi, manusia, hingga lingkungan—mendukung ketahanan energi dan daya saing Indonesia di pasar global. Inovasi sederhana seperti vending machine kami harapkan menjadi standar baru di seluruh area PTVI.”
Selaras dengan Asta Cita dan Agenda Nasional
Peresmian Limoloka menegaskan komitmen PT Vale untuk beberapa hal, di antaranya mendukung Asta Cita poin penguatan ekonomi berbasis hilirisasi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Kemudian menjadi bagian dari rantai pasok global critical minerals yang aman, transparan, dan rendah emisi.
Selain itu, juga membangun green value chain dari tambang hingga produk akhir, dengan manusia sebagai pusat penggerak.
