Dia menjelaskan, beberapa poin muatan diskusi seperti konsep gender, pengenalan PPRG, dan pembuatan GBS dan GAP sebagai dokumen PPRG yang dilaksanakan melalui diskusi dan presentasi kelompok.
Pelatihan PPRG ini dihadiri oleh 25 orang perwakilan dari empat desa antara lain Desa Malitu, Desa Masani, Desa Sintuwu Lemba dan Desa Sepe serta empat orang fasilitator daerah Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Empat Desa tersebut dipilih dikarenakan Desa Masani dan Desa Sepe adalah Desa dampingan program DRPPA dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Sedangkan Desa Malitu merupakan desa dampingan Sikola Mombine serta Desa Sintuwu Lemba adalah desa yang telah mempraktikkan musyawarah desa inklusi.
Pelatihan ini juga menghadirkan Abdullah Abdul Muthaleb, Fasilitator Nasional PUG dan PPRG Banda Aceh, dan Gunawan dari Yayasan Sikola Mombine, selaku co-fasilitator kegiatan.
Sesi pelatihan yang berlangsung selama dua hari menguatkan pemahamanan aparat desa dalam perencanaan dan penganggaran yang responsif gender di desa.
Abdullah menyatakan bahwa desa harus mampu menganalisa mana saja program yang masuk dalam buta gender, bias gender, netral gender dan responsive gender.
Fira Tiyasning Tri Utari, Selaku manajer program women4GRB dari Yayasan Sikola Mombine mengharapkan pelatihan PPRG ini dapat meningkatnya kemampuan apparat desa dalam memenuhi 7 prasyarat PUG.
Tujuh prasarat itu yaitu komitmen, kebijakan, kelembagaan, sumber daya, data, alat analisis, dan partisipasi masyarakat dalam rangka mensinergikan berbagai program daerah untuk mewujudkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak sebagai program nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. RED
