Tidak hanya itu, kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas tambang semakin meluas tanpa ada kompensasi yang layak bagi yang terdampak.
Dengan masuknya Agus Projosasmito dan kebijakan yang diterapkan Charles Daniel Gobel, PT CPM kini semakin terpusat pada mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan sosial.
“Macmahon dan Anthony Salim hanya melihat peluang keuntungan besar tanpa peduli dampak sosial dan lingkungan. Ini adalah wajah dari oligarki yang merugikan rakyat,” tegas Muh Masykur.
Seiring dengan protes yang semakin keras dari masyarakat lokal, PT CPM masih teguh pada kebijakan eksploitatifnya. Jika tidak ada perubahan segera, kata pria yang akrab disapa Theo, konflik ini berpotensi semakin membesar dan berdampak buruk tidak hanya bagi PT CPM, tetapi juga bagi hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar yang sudah lama bersinergi.
Dia menambahkan, oligarki Salim, yang dulunya hanya memikirkan laba, kini harus menghadapi kenyataan bahwa tanpa pendekatan yang berkeadilan dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat lokal, PT CPM berisiko kehilangan dukungan yang telah mereka bangun bertahun-tahun. ***
