ReferensiA.id- Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah (Sulteng) Nisbah menyebut pilkada serentak 2024 memiliki sensitivitas yang tinggi. Karena itu, media arus utama diminta memainkan perannya, menyampaikan informasi yang berimbang, objektif dan bisa dipertanggungjawabkan.
Hal itu dikemukakan di hadapan puluhan jurnalis di salah satu kafe di Kota Palu, Minggu 28 Juli 2014. Pertemuan yang digelar KPU Sulteng bertajuk Pelayanan Pers dalam rangka Sosialisasi Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Tahun 2024.
Nisbah menjelaskan, alasan menyebut sensitivitas pilkada serentak 2024. Menurutnya, sensitivitas itu disebabkan karena kontestan adalah pelaku-pelaku politik lokal yang membawa isu-isu lokal dan kepentingan kelompok-kelompok yang berada pada wilayah lokal.
“Itu yang menjadi sensitivitasnya,” jelasnya.
Berbeda dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden, di pilkada sentuhan kepentingan cukup dekat dengan pelaku politik lokal.
“Kami harapkan media mampu mengemas isu-isu yang berpotensi untuk memunculkan konflik di tingkat masyarakat. Paling tidak, isu-isu hoaks yang berpotensi untuk masuk ke masyarakat itu juga bisa diminimalisir, bisa diolah sedemikian rupa,” ujarnya.
Dia menjelasan, akan banyak akumulasi kepentingan di pilkada serentak. Kepentingan kontestan baik walikota, bupati, maupun gubernur beririsan.
“Posisi kami kan hanya mengelola kegiatan tahapan, tetapi kami juga berkepentingan terhadap kemampuan mengemas berita itu supaya tidak berpotensi memecah belah masyarakat,” ujarnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Yardin Hasan yang menjadi pembicara utama dalam pertemuan itu mengemukakan soal peran media di pilkada di antaranya mencegah hoaks dan disinformasi.
Dia mengingatkan jurnalis agar memeriksa fakta dan melaporkan berita yang benar untuk melawan penyebaran hoaks dan disinformasi terkait pemilu. Media juga diharapkan menyediakan informasi yang akurat untuk membantu pemilih membuat keputusan berdasarkan fakta.
