Ulfa mengatakan, karena pandemi dan pembelajaran jarak jauh di sekolah, sinyal koneksi internet susah dan aplikasi internet masih awam bagi siswa sehingga terjadi learning loss. Sejak PTMT, kata dia, pada saat PTMT di Aceh dilakukan shift (50 persen jumlah siswa).
“Karena pengurangan jam pelajaran dari 45 menit menjadi 30 menit dalam 1 JP, maka terjadi lagi learning loss,” ujarnya.
Kemendikbudristek mempunyai program dari TVE, tanpa iklan yang tidak merusak karakter siswa. Ulfa menggunakan TVE untuk siswa yang daring, kemudian dipantau dengan mengirim resume-nya.
Dikatakan, biologi tidak bisa lepas dengan praktikum, tapi karena PTMT maka praktikum sulit dilaksanakan di sekolah.
“Praktikum yang saya lakukan dengan project base learning, dengan menggunakan alat praktikum dari limbah yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Hasil dari rancangan ini jika dikembangkan dengan baik bisa dimanfaatkan oleh sekolah yang kekurangan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan praktikum.
“Saya guru honorer namun mau menjadi guru yang bisa menginspirasi guru honorer lain, karena guru mulia karena karya. Niat saya tulus untuk menginspirasi banyak orang, dan ini ajang nasional, banyak guru dari berbagai daerah ikut ke sini, dengan sharing di sini akan banyak guru lain yang terinspirasi,” ujarnya.
Peserta lainnya yang meraih penghargaan adalah Lufia Krismiyanti, guru SMP Negeri 1 Brebes. Lufia Krismiyanti terpilih sebagai peserta terinspiratif kedua untuk jenjang SMP.
Dia membawa karya yang berjudul Metode Situte (Si Tukang Tempe) berbasis table stamp untuk melatih keterampilan dan kreativitas siswa di masa pandemi.
Guru SMP Negeri 1 Brebes ini menggunakan Situte untuk melatih keterampilan anak di materi bioteknologi konvensional.
Anak-anak mempraktikkan pembuatan tempe di rumah masing-masing, membuat desain, dan mempromosikan produknya melalui media sosial masing-masing. Dengan modal Situte, Lufia mengirimkan artikel ilmiahnya, dan masuk dalam 120 karya terpilih.
