Perseroan berencana membangun pabrik pengolahan nikel beserta fasilitas pendukungnya di Sambalagi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dan di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Untuk proyek di Bahodopi PT Vale akan membangun pabrik pengolahan proses bijih saprolit dan menghasilkan feronikel yang merupakan bahan utama dalam pembuatan baja nirkarat.
Sementara di Pomalaa, akan dikembangkan pabrik untuk memproses bijih nikel limonit dengan menggunakan teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) untuk menghasilkan produk yang dapat diolah menjadi bahan utama baterai mobil listrik.
Di dua proyek terbaru PT Vale itu akan menggunakan teknologi terbarukan yang dipercaya lebih ramah lingkungan, rendah karbon.
Namun semua standar perseroan yang ada di Blok Sorowako juga akan diadopsi di dua proyek terbaru PT Vale di Bahodopi dan Pomalaa. Termasuk standar keamanan dan komitmen keberlanjutan, cara menambang yang baik untuk menjaga masa depan kehidupan.
“Di project baru nanti tidak akan ada lagi teknologi batu bara, di Bahodopi kita pastikan pakai teknologi LNG, sementara di Pomalaa kita masih kaji, rencananya pakai PLN,” ungkap CEO PT Vale Febriany Eddy.
Perusahaan serius ingin mencapai target nol emisi karbon di 2050. Bahkan saat ini PT Vale sedang menguji satu unit truk listrik di Blok Sorowako. Jika memenuhi standar, maka perseroan akan menggunakan alat berat bertenaga listrik itu untuk operasional di pertambangan.
Sementara untuk pekerja, sama seperti di Blok Sorowako, PT Vale berkomitmen akan menjaring talenta lokal untuk mengisi kebutuhan pekerja di proyek Blok Bahodopi dan Pomalaa nantinya.
“Kita harus menjaring semua talenta terbaik bangsa untuk kita beri kesempatan berkarya. Gender dan disabilitas kita kasih kesempatan, jangan lihat latar belakang, tapi lihat kompetensinya,” tegas Fabriany Eddy saat memperkenalkan truk listrik yang diuji coba di Blok Sorowako.
