Kisah Terbunuhnya Pahlawan Nasional Tombolotutu
Pengejaran terhadap Tombolotutu belum berakhir. Setelah diketahui keberadaannya di Toribulu, operasi militer oleh Belanda pun dilancarkan.
Mengenai peristiwa terbunuhnya Tombolotutu Lukman Nadjamuddin, dkk menggunakan dua sumber yang berbeda. Pertama, mengutip buku Eddy Rumambi dalam “Arajang Moutong dan Perang Tombolotutu 1898-1904” terbit 2007. Eddy Rumambi adalah mantan Sekretaris Swapraja Moutong pada masa Raja Kuti Tombolotutu dan tinggal di rumah kerajaan. Begini kisahnya.
“… Saat Pua Pika berjongkok menyerahkan Kuti, sebuah tombak meluncur ke arah Tombolotutu hingga mengenai kedua paha Pua Pika, sementara ujung tombak tersebut sempat melukai tengkuk Kuti. Darah menetes dan bercucuran ke pangkuan ayahnya. Bersamaan dengan itu puluhan pasukan marsose muncul mengepung Tombolotutu dengan pedang terhunus. Kesepuluh pengawalnya pun bergegas melaklukan perlawanan”.
Begitu penggalan kisah yang dituliskan Lukman Nadjamuddin, dkk dalam buku “Bara Perlawanan di Teluk Tomini” pada halaman 213-215. Buku hasil riset yang diterbitkan oleh Penerbit Ombak tahun 2017 ini menjadi salah satu dasar penobatan Tombolotutu sebagai pahlawan nasional.
Pua Pika yang diceritakan di atas adalah istri Tombolotutu. Sedangkan Kuti adalah anaknya. Adapun pasukan marsose yang menyerang adalah pasukan elite Belanda. Peristiwa itu terjadi pada 17 Agustus 1945 di Ujularit, dekat Donggulu.
Lanjut dikisahkan, setelah serangan tombak itu, Tombolotutu menyerahkan anaknya kepada istrinya yang tidak bisa berdiri lagi. Darah menetes dari lukanya, sementara Kuti langsung berada dalam gendongan Hasasiah, adik ipar Tombolotutu. Pua Pika langsung dipapah oleh adiknya, Daeng Matanga yang juga ikut bersama rombongan ke Ujularit.
Pua Pika dan anaknya dibantu Daeng Matanga dan Hasasiah bergegas meninggalkan Ujularit dan diikuti Kunciala sebagai tadulako pengawal tanpa menoleh ke belakang. Melihat istri dan anaknya pergi, Tombolotutu bangkit dari duduknya, tangan kanannya mencabut keris Lacori, sebagai lambang kekuasaan Kerajaan Moutong. Tanpa rasa gentar, bersama pengawalnya melakukan perlawanan.
