Sementara penduduk yang tinggal di lereng Gunung Simaroya berdatangan dan menyerbu pasukan Belanda dengan parang dan tombak. Tombolotutu yang sudah terluka parah tetap memberikan perlawanan.
Tadulako Loliba’i dan Ologian Mologau berperang di sisi kanan dan kiri Tombolotutu, hingga akhinya Tombolotutu meninggal di pangkuan Loliba’i yang juga sedang tidak berdaya. Sesaat kemudian, Tadulako Lolibai dan Ologian Moloagu meninggal dunia.
Versi kedua tentang terbunuhnya Tombolotutu dikutip Lukman Nadjamuddin, dkk dari “Uit de Javasche Courant” dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie”, tanggal 25 September 1901, lembar ke-2.
Dari sumber itu, Lukman Nadjamuddin menuliskan, Kapitan Donggulu bersama Raja Toribulu sempat menemui Tombolotutu. Dalam perundingan tersebut, Tombolotutu menyatakan kesediaan menyerah dengan syarat mendapat jaminan perlindungan beserta keluarganya untuk kembali ke Moutong.
Atas jaminan dari mertua (Raja Toribulu), Tombolotutu bergabung dengan kelompok Kapitan Donggulu. Ketika mendengar kabar bahwa akan dibawa ke Kasimbar Tombolotutu menolak meneruskan perjalanan, tetapi dicegah oleh kesatuan Donggulu.
Pertempuran segera terjadi karena para pengikuti Tombolotutu melakukan perlawanan. Pertempuran yang berlangsung sekitar satu jam mengakibatkan korban jiwa berjatuhan, termasuk Tombolotutu dan tiga pengikutnya. Sementara pihak Belanda satu orang terbunuh.
Sejumlah pengikut Tombolotutu yang selamat, termasuk wanita dan anak-anak dibawa ke Toribulu. Begitulah akhir kisah perlawanan Tombolotutu. Makamnya berada di Toribulu. ***
