“Tidak ada intervensi siapapun yang dapat atau pun tidak. Jadi yang tidak dapat itu bukan kami yang menentukan, kami hanya menginput, yang menentukan itu Kemendikdasmen, mereka yang menyeleksi siapa yang layak dan siapa yabg tidak. Kami hanya bisa perjuangkan, tapi mereka yang tentukan layak atau tidak. Kami inginnya semua dapat, berapa yang diusulkan semua dapat. Tapi sekali lagi semua ditentukan oleh Kemendikdasmen,” jelasnya.
Pada reses tersebut, Nilam Sari Lawira juga menerima keluhan terkait seragam sekolah yang kerap jadi masalah bagi siswa, terutama mereka dari keluarga kurang mampu.
Bagi Nilam, masalah seragam sekolah memang merupakan salah satu masalah mendasar yang harus segera dicarikan solusi.
“Saat ini saya prioritaskan soal PIP dulu, soal seragam sekolah saya akan usahakan. Karena memang soal seragam sekolah ini masalah juga bagi anak-anak, bisa mengganggu psikologi anak-anak,” ujar Ketua DPRD Sulteng periode 2019 – 2024 itu.
Dia pun mengingatkan semua pihak ikut mewujudkan pendidikan yang inklusif, termasuk para guru dan orang tua murid agar selalu menjalin komunikasi yang baik.
“Kita harapkan tidak ada satu anak pun yang tertinggal dari perhatian guru selama sekolah. Kita ingin pendidikan yang inklusif,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 7 Palu Masriati Penyami mengingatkan orang tua siswa penerima PIP agar memanfaatkan beasiswa sebaik mungkin.
“Saya imbau kepada bapak ibu yang anaknya terima PIP, ketika menerima bantuan ini digunakan betul-betul untuk kebutuhan anak sekolah,” kata Masriati. ***



















