Inisiatif ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasi yang diproyeksikan menghasilkan penghematan energi dan penurunan CO₂ yang signifikan setiap tahun.
Bagi Budiawansyah, dekarbonisasi bukan slogan, tetapi mandat organisasi. “Pesan kami di COP30 sangat jelas,” ujarnya.
“Pertumbuhan yang bertanggung jawab dan selaras iklim merupakan pilar strategi kami. Melalui inovasi dan kolaborasi, termasuk kemitraan hilirisasi strategis dengan Huayou, kami berkomitmen menghadirkan nikel rendah karbon yang memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan global,” jelasnya.
Sentimen serupa disampaikan oleh Stevanus, Director of Public Affairs Huayou Indonesia, yang menegaskan bagaimana inovasi teknologi Huayou tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga mengurangi emisi karbon secara signifikan.
“Inovasi teknologi baru sedang kami implementasikan pada proses hidrometalurgi lanjutan—mulai dari waste heat recovery yang dapat memenuhi lebih dari 70% kebutuhan listrik proyek, self-flow ore slurry, solidifikasi CO₂, elektrifikasi, hingga pemanfaatan kembali limbah,” ujar Stevanus.
“Dengan itu semua, kami dapat menurunkan lebih dari 2 tCO₂e per ton nikel.”
Ia menambahkan, kemitraan PT Vale–Huayou mencerminkan misi bersama untuk mempercepat pemrosesan material baterai yang lebih bersih dan efisien.
“Dengan menggabungkan inovasi hidrometalurgi Huayou dan fondasi ESG PT Vale, kami turut menempatkan Indonesia sebagai tolok ukur global bagi material baterai rendah karbon,” katanya.
Pandangan panel semakin diperkaya oleh Vice President HSE Harita Nickel, Aladin Sianipar, yang menekankan pentingnya sirkularitas dan pemanfaatan ulang limbah dalam perjalanan dekarbonisasi industri.
Bersama-sama, para pembicara menyampaikan pesan kuat: industri nikel Indonesia tengah menjalani salah satu transformasi terbesar dalam sejarahnya, digerakkan oleh kolaborasi antara pemerintah, pelaku hulu, pengolah midstream, dan pemimpin teknologi hilir.



















