
Selanjutnya, menikmati wisata air. Snorkling, diving atau sekadar berendam di jernihnya laut di pusat wisata Jiko Malamo, membuat siapaun jadi lupa waktu.
Meskipun saat itu arus sedikit deras, tidak menyurutkan niatan untuk tetap terus berendam dan menikmati pemandangan bawah lautnya. Menggunakan perahu cepat, mengunjungi sejumlah tempat untuk memanjakan mata jadi pilihan lain.

Setelah menghabiskan waktu setengah hari di Jiko Malamo, lalu berkesempatan melihat langsung cengkih tertua di dunia. Dikenal dengan sebutan Cengkeh Afo, usia cengkih tersebut mencapai ratusan tahun.
Cengkih tertua di sana usianya mencapai 416 tahun, diberi nama Cengkeh Afo I. Namun sudah mati sejak awal tahun 2000-an. Yang tersisa saat ini hanya cengkeh berusia 200-an tahun.
Nama Cengkeh Afo sendiri jika diartikan dari bahasa setempat adalah cengkih tua. Afo menurut bahasa setempat berarti tua.
Selain mendapatkan pengalaman baru melihat cengkih tertua di dunia, menikmati alam di ketinggian yang dikelilingi rerempahan dan hutan yang masih alami benar-benar membuat kita ingin berlama-lama di lokasi yang sekitar 2 kilometer dari Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama tersebut.
Sambil bersantai, santapan tradisonal menjadi hidangan di sana. Namanya makanan khas rimo-rimo. Rimo-rimo merupakan makanan yang diolah dengan campuran rempah-rempah terbaik, disajikan dengan proses pemanggangan aneka makanan di dalam ruas bambu.













