“Dukungan Perpusnas dalam bentuk bantuan sarana, koleksi, dan teknologi informasi menjadi krusial,” sebut Nilam.
Begitu pula soal sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan perpustaan di Sulawesi Tengah. Menurut dia, kualitas dan jumlah pustakawan di Sulawesi Tengah masih menjadi tantangan. Banyak
perpustakaan dikelola oleh tenaga non-pustakawan, sehingga layanan belum profesional dan berkelanjutan. Program literasi belum terkelola secara kreatif dan kontekstual, sehingga perlu dorongan peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan, sertifikasi, dan pendampingan berkelanjutan.
Menurut Nilam Sari Lawira, penguatan kebijakan afirmasi daerah perlu dilakukan. “Komisi X perlu mendorong Perpusnas agar memiliki skema khusus bagi provinsi dengan tantangan geografis dan sosial seperti Sulawesi Tengah,” kata nilam merekomendasikan.
Selain itu, perlu pula optimalisasi anggaran dan program. pengawasan terhadap perencanaan dan serapan anggaran juga dianggap penting agar program literasi tepat sasaran dan tidak terhambat oleh persoalan administratif.
“Diperlukan penguatan koordinasi antara Perpusnas, pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota agar dukungan APBN selaras dengan komitmen APBD. Fokus pada SDM dan literasi kontekstual program pengembangan pustakawan dan literasi berbasis kearifan local, Sulawesi Tengah perlu menjadi prioritas,” tegasnya.
Nilam juga mendorong agar buku-buku lokal dimasukkan ke dalam koleksi nasional sebagai upaya untuk memperkaya khazanah literasi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serta memperkuat identitas budaya di daerah. ***



















