“Saya sangat mengapresiasi BPS karena acara ini bisa terlaksana, sebagai pondasi untuk kita membaca bagaimana denyut nadi perekonomian 2026 nanti menyambut Indonesia Emas 2045 nanti,” katanya.
Data yang akurat dari pelaku usaha menjadi penting, sebab kebijakan yang lahir tidak berdasarkan data akan jadi kebijakan yang tidak sesuai kebutuhan masyarakat.
“Dalam satu dekade banyak perubahan sudah terjadi, tentu ini menggeser struktur perekonomian kita. Sehingga perlu didata kembali,” sebut Nilam terkait pentingnya sensus yang hanya digelar sekali setiap sepuluh tahun.
“Literasi sangat penting, banyak pelaku usaha tidak mau jujur karena takut berkaitan pajak, padahal data di BPS ini tidak ada hubungannya dengan pajak,” tandasnya.
Sementara itu, PLT Direktur Statistik Industri BPS RI Dr Ardi Adji yang berbicara sebagai pemateri, menyampaikan bahwa hasil pendataan akan berpengaruh pula terhadap keberlangsungan usaha jika terjadi risiko krisis ekonomi.
“Kalau tidak ada informasi diberikan, bagaimana pemerintah memberikan dukungan,” katanya.
Olehnya, sangat penting pelaku usaha memberikan data valid kepada petugas sensus, yang antara lain akan mengajukan pertanyaan terkait nama perusahaan, alamat, jenis usaha, jumlah usaha hingga pekerja dan sebagainya.
“Dari situ nanti pemerintag bisa tahu apa usaha yang harus dibantu, berapa jumlah usaha, berapa jumlah gajinya. Supaya kalau ada bantuan, bisa dibantu,” jelas Ardi.
BPS pun menjamin kerahasiaan data yang diberikan. Sehingga pelaku usaha tidak perlu takut untuk memberikan data yang valid.
Adapun data yang akan dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik antara Juni hingga Juli 2026 mendatang, akan mencakup seluruh unit usaha di Indonesia (kecuali pertanian), mulai dari mikro hingga besar. ***



















