Ia menambahkan, tantangan lainnya meliputi angka putus sekolah yang masih tinggi, disparitas kualitas guru, keterbatasan sarana prasarana, serta belum meratanya akses digitalisasi sekolah. Selain itu, pendidikan vokasi juga belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan industri di daerah.
Dalam kesempatan itu, Bunda Wiwik juga menyinggung fenomena perkawinan usia anak, yang dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya partisipasi pendidikan di Sulteng.
“Ternyata Bapak Ibu, di antara yang menjadi kendala pendidikan saat ini, yakni fenomena perkawinan usia anak. Di Sulteng masih tinggi angka perkawinan usia anak. Salah satu penyebabnya, karena kurangnya peran keluarga dalam mendukung pendidikan,” tandasnya.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara orang tua dan guru dalam membangun generasi cerdas dan berkarakter.
Menurutnya, anak-anak lebih banyak berinteraksi di rumah daripada di sekolah. Karena itu, mendidik anak adalah tanggung jawab bersama — guru di sekolah dan orang tua di rumah.
Konferensi kerja PGRI Sulteng ini menjadi momentum penting bagi para pendidik dan pemangku kebijakan untuk memperkuat sinergi dalam mewujudkan pendidikan berkualitas dan keluarga tangguh menuju Sulawesi Tengah yang maju dan berdaya saing. ***



















