Selama periode tersebut, baik harga HSFO, diesel maupun batubara masing-masing naik sebesar 12%, 20% dan 14%.
Berdasarkan laporan itu, EBITDA PT Vale pada 3T22 adalah AS$103,0 juta, 37% lebih rendah dibandingkan EBITDA pada 2T22 yang sebesar AS$163,4 juta, hak itu disebabkan oleh realisasi harga nikel yang lebih rendah.
Adapun kas dan setara kas perseroan pada 30 September 2022 adalah AS$624,3 juta; 7% lebih tinggi dibandingkan kas dan Slsetara kas pada 30Juni 2022 sebesar AS$585,9 juta.
Kemudian PT Vale mengeluarkan belanja modal sekitar AS$29,9 juta pada triwulan ini, turun dari AS$35,9 juta pada 2T22.
“Kami memperkirakan akan menghabiskan AS$130 juta untuk sepanjang tahun 2022,” jelasnya.
Proyeksi produksi untuk tahun 2022 telah direvisi menjadi kisaran 61.000 t – 62.000 t, lebih rendah dari yang ditargetkan sebelumnya, terutama karena keterlambatan penyelesaian proyek Furnace4 Rebuild.
“Perseroan akan berupaya mengoptimalkan produksi pada triwulan terakhir tahun ini sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya operasional. Dalam melakukannya, kami tidak akan mengkompromikan nilai-nilai utama kami: Keselamatan jiwa merupakan hal terpenting, Menghargai kelestarian bumi dan komunitas kita,” tandasnya. RED



















