Program ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah dan keluarga para peserta.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Morowali, Ahmad, menyebut langkah ini sebagai investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang mandiri dan siap menghadapi era industri hijau.
“Bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi membentuk karakter dan kompetensi anak-anak kita,” ujarnya.
Sejak awal, PT Vale menempatkan masyarakat sebagai mitra, bukan penonton. Dalam setiap langkah pembangunan, perusahaan terus membuka ruang bagi partisipasi warga dan pemerintah daerah. Forum dialog, musyawarah desa, hingga pertemuan tatap muka rutin menjadi bagian dari proses masukan yang diterapkan secara konsisten.
Perusahaan menyadari bahwa dalam setiap aspirasi, selalu ada pesan yang lebih dalam, tentang identitas, harapan dan keinginan untuk dilibatkan. Karena itu, PT Vale meyakini bahwa pembangunan yang bermakna bukan sekadar membangun fasilitas, tetapi juga membangun rasa percaya dan saling mendukung.
“Kami tidak akan pernah berhenti mendengarkan. Kadang yang paling penting bukan apa yang kita jawab, tetapi bagaimana kita hadir,” kata Wafir dengan tenang.
Di tengah ambisi hilirisasi dan investasi besar, PT Vale tetap berpegang pada prinsip responsible mining, memastikan keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Pengendalian debu, pengelolaan sampah, pemantauan lingkungan, serta pemberdayaan petani dan nelayan di sekitar wilayah operasi terus dilakukan agar kehidupan masyarakat tetap terjaga seiring berjalannya industri.
Bagi PT Vale, keberlanjutan bukan hanya tentang tambang yang ramah lingkungan, tapi tentang kehidupan yang tetap berdenyut di sekitarnya: sawah yang tetap tumbuh, air yang tetap jernih dan anak-anak yang bisa bersekolah dengan nyaman. ***



















