Meski begitu, paruh pertama 2025 bukan tanpa tantangan bagi PT Vale, mulai dari gangguan furnace hingga tekanan kenaikan biaya regulasi.
Namun alih-alih memperlambat langkah, perusahaan justru mempercepat eksekusi. Jadwal pemeliharaan dipercepat ke semester pertama tahun ini, persiapan rebuilding EF3 dimajukan, dan kontrol biaya diperketat. Semua ini menyiapkan pijakan yang lebih kuat untuk semester kedua 2025 dan tahun 2026.
Dan yang terpenting, tidak ada capaian yang lebih penting dari keselamatan. Dengan zero fatality year-to-date, penurunan TRIFR menjadi 0,43 dan lebih dari 200 kontrol risiko kritis diverifikasi setiap hari, budaya keselamatan menjadi bukti kedisiplinan dan kepemimpinan yang kuat.
Serangkaian pengakuan nasional dan internasional—seperti ENSIA Award, Lestari Award, ESG Business Award, Investortrust ESG Award, dan Subroto Award—menggambarkan kekuatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan sosial.
Pencapaian besar lainnya adalah peningkatan Sustainalytics ESG Risk Rating menjadi 23,7, menjadikan perusahaan masuk dalam Top 15 perusahaan pertambangan berisiko ESG terendah di dunia.
Upaya menuju sertifikasi IRMA-50 juga terus berlanjut dan memasuki fase critical requirement improvement—penanda keseriusan dalam mematuhi standar pertambangan bertanggung jawab kelas dunia.
Empat mesin pertumbuhan besar—Pomalaa, Bahodopi, Sorowako Limonite, dan Tanamalia—mencatat progres signifikan dan menjadikan ini salah satu investasi berorientasi energi bersih terbesar di Indonesia;
- Pomalaa (Ford & Huayou): Progres tambang 43,71%, HPAL 33,04%
- Bahodopi (GEI): Progres tambang 89,7%, HPAL 16,72%
- Sorowako Limonite: Progres konstruksi 25,37%
- Tanamalia: Studi kelayakan dan pemilihan mitra teknis berjalan baik
Proyek-proyek ini akan menghasilkan “nikel yang tepat”—kelas 1, rendah karbon, dan dibutuhkan oleh industri baterai kendaraan listrik global.



















