Selain pengujian kualitas air, DRRC UI juga melakukan analisis sebaran potensi aliran air dan pemetaan risiko hingga radius 9 km dari lokasi pipa.
Hasil sementara menunjukkan tidak ada indikasi penyebaran minyak menuju kawasan konservasi Danau Towuti, dan parameter hidrokarbon, TPH, serta logam berat berada dalam batas aman secara ekologis.
Sejak insiden terdeteksi pada 23 Agustus 2025, PT Vale segera menghentikan aliran minyak dan membentuk Tim Tanggap Darurat (Emergency Response Group/ERG) bersama DLH, BPBD, Pemkab Luwu Timur, dan masyarakat setempat.
Lebih dari 150 petugas lapangan dan relawan lokal diterjunkan untuk melakukan isolasi area, pembersihan, dan pemulihan dengan prosedur ramah lingkungan.
Adapun langkah-langkah penanggulangan mencakup pemasangan oil boom, skimmer, dan absorbent pad di sepanjang jalur aliran air utama, penyedotan minyak dan pembersihan manual serta mekanis di titik-titik teridentifikasi, penerapan bio-remediation menggunakan bahan alami yang disetujui DLH, penyediaan 160.000 liter air bersih per hari bagi masyarakat terdampak selama fase tanggap darurat, pendampingan kesehatan masyarakat melalui Dinas Kesehatan Luwu Timur dan penyuluhan bersama penyuluh pertanian dan warga desa untuk menjamin keamanan lahan dan air irigasi.
Seluruh langkah tersebut didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala kepada pemerintah daerah dan regulator nasional.
Progres Pemulihan di 11 Titik Lokasi
Dari 11 titik lokasi penanganan, hingga 22 Oktober 2025, PT Vale telah menuntaskan seluruh titik dengan hasil air kembali jernih. Seluruh titik kini dalam tahap pengujian lanjutan dan pemantauan kualitas air dan tanah oleh tim ahli agronomi IPB University.
Kondisi lapangan menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan. “Saya lewat jembatan di Titik 2, airnya sudah jernih sekali. Banyak warga juga sudah pakai untuk cuci dan kegiatan harian,” ungkap Aroyos, warga Desa Lioka, yang setiap hari melintasi area tersebut.



















