Raih Penghargaan, Begini Cara Guru IPA Berinovasi di Masa Pandemi

IMG 20211126 WA0125
Acara penutupan kegiatan Gerak Pena, Jumat 26 November 2021 di Bandung, Jawa Barat. / Kemdikbud.go.id

Ulfa mengatakan, karena pandemi dan pembelajaran jarak jauh di sekolah, sinyal koneksi internet susah dan aplikasi internet masih awam bagi siswa sehingga terjadi learning loss. Sejak PTMT, kata dia, pada saat PTMT di Aceh dilakukan shift (50 persen jumlah siswa).

“Karena pengurangan jam pelajaran dari 45 menit menjadi 30 menit dalam 1 JP, maka terjadi lagi learning loss,” ujarnya.

Kemendikbudristek mempunyai program dari TVE, tanpa iklan yang tidak merusak karakter siswa. Ulfa menggunakan TVE untuk siswa yang daring, kemudian dipantau dengan mengirim resume-nya.

Baca Juga:  Aston Palu Beri Tarif Eksklusif untuk Guru Nikmati Akhir Pekan di Hotel Bertaraf Internasional

Dikatakan, biologi tidak bisa lepas dengan praktikum, tapi karena PTMT maka praktikum sulit dilaksanakan di sekolah.

“Praktikum yang saya lakukan dengan project base learning, dengan menggunakan alat praktikum dari limbah yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.

Hasil dari rancangan ini jika dikembangkan dengan baik bisa dimanfaatkan oleh sekolah yang kekurangan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan praktikum.

“Saya guru honorer namun mau menjadi guru yang bisa menginspirasi guru honorer lain, karena guru mulia karena karya. Niat saya tulus untuk menginspirasi banyak orang, dan ini ajang nasional, banyak guru dari berbagai daerah ikut ke sini, dengan sharing di sini akan banyak guru lain yang terinspirasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Majukan Guru di Sulteng, Cambridge University Press Temui Gubernur

Peserta lainnya yang meraih penghargaan adalah Lufia Krismiyanti, guru SMP Negeri 1 Brebes. Lufia Krismiyanti terpilih sebagai peserta terinspiratif kedua untuk jenjang SMP.

Dia membawa karya yang berjudul Metode Situte (Si Tukang Tempe) berbasis table stamp untuk melatih keterampilan dan kreativitas siswa di masa pandemi.

Guru SMP Negeri 1 Brebes ini menggunakan Situte untuk melatih keterampilan anak di materi bioteknologi konvensional.

Baca Juga:  Majukan Guru di Sulteng, Cambridge University Press Temui Gubernur

Anak-anak mempraktikkan pembuatan tempe di rumah masing-masing, membuat desain, dan mempromosikan produknya melalui media sosial masing-masing. Dengan modal Situte, Lufia mengirimkan artikel ilmiahnya, dan masuk dalam 120 karya terpilih.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *