Balai Bahasa Sulteng Luncurkan 32 Buku Bacaan Anak Berbahasa Daerah dan Terjemahan Karya Penulis Lokal

Balai bahasa Sulteng
Para penulis 32 buku bacaan anak berbahasa daerah Sulteng. / ReferensiA.id

Dia bilang, buku tersebut bisa dimiliki oleh siapa saja, termasuk pemerintah daerah. Sebab buku tersebut dapat dicetak kembali, khususnya oleh pemerintah daerah jika ingin menyediakannya untuk bahan bacaan anak.

“Tentu saja, pencetakan kembali dilaksanakan melalui kesepakatan bersama,” kata dia.

Dia berharap pemerintah daerah mau mencetak kembali buku tersebut agar bisa jadi bahan bacaan lebih banyak anak di Provinsi Sulawesi Tengah.

Baca Juga:  Balai Bahasa Sulteng Gelar Diseminasi Jelang Kongres Bahasa Indonesia XII

“Pemerintah pusat telah membantu, Kami tunggu komitmen pemerintah daerah untuk memperbanyaknya. Semoga 32 buku yang kami luncurkan pada hari ini bermanfaat untuk masyarakat Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Dia pun mengapresiasi para penulis yang telah berhasil menghadirkan karya mereka untuk anak-anak di daerah ini, sebab menulis untuk anak tidak mudah, tidak semudah menulis untuk pembaca usia dewasa.

Adapun para penulis yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya ada duta baca, guru penggerak, kepala sekolah hingga mahasiswa.

Baca Juga:  Gubernur dan 4 Kampus di Sulteng Teken Kerja Sama, Komitmen Jaga Kedaulatan Bahasa

“Saya sangat berbahagia pada hari ini dapat mempertemukan para tokoh-tokoh muda yang ikut berkontribusi pada peningkatan Literasi di Sulawesi Tengah,” sebut Asrif.

Dia bilang, melalui buku yang dihasilkan sekaligus jadi upaya pendokumenan bahasa daerah, sebab selama ini daerah Sulawesi Tengah disebut tidak punya dokumen bahasa daerah.

“Jadi mereka ini penulis yang memang menguasai bahasa daerah. Jadi menulis dengan bahasa daerah yang kemudian diterjemahkan,” tandasnya.

Baca Juga:  Begini Upaya Balai Bahasa Sulteng Cegah Kepunahan Bahasa Daerah di Donggala

“Dari 32 buku hampir semua bahasa ada. Diperbanyak bahasa Kaili tapi banyak dialeg juga. Ini ditulis oleh orang lokal, tentang budaya lokal untuk global,” terangnya.

Sementara dari 32 buku tersebut setiap buku yang dihasilkan dicetak sebanyak 70 eksemplar untuk saat ini. Sehingga pemerintah daerah diharap dapat memperbanyak jumlahnya.

Dapatkan Update Berita Terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *