“Beliau sangat menyadari bahwa saat ini ia adalah salah satu kandidat calon gubernur Sulteng, dan beliau mencoba untuk menjaga jarak agar tidak terlihat sedang memanfaatkan Alkhairaat untuk kepentingan kampanye,” jelas Maan.
Ia menambahkan bahwa ketidakhadiran Ahmad Ali di Milad Alkhairaat malah menunjukkan sikap bijaksana dalam menghargai prinsip-prinsip Alkhairaat yang diajarkan oleh Guru Tua.
Fitnah ketiga yang beredar adalah tuduhan bahwa Ahmad Ali tidak ikhlas dengan hasil muktamar Alkhairaat. Menurut Maan, tuduhan ini juga sama sekali tidak berdasar.
“Ahmad Ali tercatat sebagai dewan pembina Perhimpunan Islam Alkhairaat,” ujar Maan.
Maan juga mengingatkan bahwa dalam pamflet yang beredar, ada kesalahan dalam penulisan nama Alkhairaat.
“Tetapi setiap sesuatu itu pasti meninggalkan jejak. Apa jejak yang tertinggal? Ini semua berkah yang ditinggalkan Guru tua. Yaitu, penulisan nama alkhairaat dalam Pamplet selebaran itu keliru, tulisan yang benar itu bukan alkhaeraat, tapi Alkhairaat. Tulisan alkhairaat tidak pernah pakai E, tapi pakai I. Kami sudah mengidentifikasi dan menelusuri kesalahan ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Maan menjelaskan bahwa meskipun pemilihan gubernur adalah hak setiap individu, ia sendiri memiliki pilihan dalam pemilihan ini.
“Saya juga punya pilihan saya sendiri, tetapi yang jelas, kami tidak bisa menerima fitnah dan pemalsuan nama besar Alkhairaat dan Guru Tua yang sangat dihormati,” tambahnya.
Di akhir pernyataan, Maan menyampaikan bahwa Alkhairaat selalu mengajarkan untuk menjaga kebersamaan dan menghindari perpecahan.
“Kami berharap, mari kita semua menjaga Alkhairaat, menjaga persatuan, dan saling menghormati pilihan masing-masing. Semoga Sulteng menjadi daerah yang semakin maju dan damai,” pungkasnya. **



















