ReferensiA.id- PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) selalu jadi sorotan publik dan industri pertambangan nasional, termasuk pada awal 2026. Perusahaan nikel terbesar yang beroperasi lebih dari lima dekade di tanah air ini tengah memadukan ekspansi bisnis, pemberdayaan lokal, dan keberlanjutan strategis dalam satu visi besar: menjadikan Indonesia ujung tombak industri mineral global.
PT Vale bukan hanya sekadar pelaku industri, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi, terutama di berbagai wilayah operasionalnya.
Sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya, PT Vale kembali membuka kesempatan kerja khusus bagi masyarakat lokal di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sejumlah posisi ditawarkan.
Langkah ini bukan hanya soal membuka lowongan, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal, yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem operasional perusahaan.
Sementara itu, proyek hilirisasi nikel di Pomalaa, Kolaka, kembali mencatat kemajuan signifikan—dua unit autoclave pertama untuk fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) telah tiba.
Autoclave adalah jantung teknologi HPAL yang mengubah bijih nikel laterit menjadi bahan baku berharga seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP): komponen krusial untuk baterai kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi bersih.
Proyek ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia dalam memperkuat downstreaming mineral demi posisi yang lebih kuat di pasar global.
Tidak hanya itu, Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 PT Vale juga telah disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), membuka jalan bagi kelancaran operasi dan kontribusi pasokan nikel bagi industri nasional.
Dengan persetujuan RKAB dan kemajuan proyek Pomalaa, Vale semakin memperkuat perannya sebagai bagian dari rantai nilai global nikel, terutama untuk baterai EV yang tengah melejit permintaannya.



















