Gerakan pangan murah ini menurut Irwan tak semata soal harga. Tapi ini juga gerakan kolektif dari dinas terkait di Kabupaten Sigi, di dalamnya ada Dinas Perkebunan, Pertanian dan Dinas Pangan yang bergerak bersama untuk menghadirkan pangan yang yang terjangkau bagi semua kalangan.
Adanya daerah-daerah yang produksi pangannya relatif baik, namun meminta agar ada operasi pangan murah. Menurut dia, ini disebabkan karena gagal panen yang memicu kenaikan harga pangan pokok di sana.
Ia juga menyebut soal beras impor yang membanjiri pasar lokal, dan pada saat yang bersamaan Kementerian Pertanian bahkan menyebutkan Kabupaten Sigi adalah daerah yang mengalami surplus beras.
Ditanya soal tingginya harga beras di pasar lokal yang mencapai Rp13.000/kg Irwan mengaku belum mengetahui penyebabnya. Padahal cadangan pangan bantuan dari pemerintah pusat sudah terdistribusi sekitar 60 persen.
“Saya belum tahu penyebab pastinya. Tapi pemerintah tetap menggalakkan intervensi pasar untuk menstabilkan harga di pasaran,” katanya bersemangat.
Sementara Pangan Murah ini diikuti oleh pelaku UMKM yang mendapat subsidi oleh pemerintah maupun Bulog, serta diikuti oleh usaha dan distributor nasional. RED



















