Demikian pula sebaran fragmen gerabah yang banyak, fragmen gerabah ini terdapat di seluruh wilayah, baik di Lembah Bada, Lembah Behoa, Lembah Napu dan Lembah Palu serta Lindu.
“Keempat kawasan tersebut memiliki ciri tata ruang yang khas yang memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya,” katanya.
Dia bilang, Sulawesi Tengah adalah tempat di mana alam dan budaya saling berpadu dengan indah, di antara kekayaan alamnya terdapat ribuan situs megalitikum yang menunjukkan kemajuan peradaban masa lalu.
Rusdy Mastura melanjutkan, megalit bukan hanya sekadar batu-batu besar kuno, namun itu adalah saksi bisu dari ketekunan, kebijaksanaan dan kerja keras leluhur kita, yang terkandung nilai-nilai, serta pengetahuan luar biasa di dalamnya.
Olehnya, grand launching atau pencanangan “Negeri Seribu Megalith” ini merupakan langkah yang berani untuk menjadikan megalitik sebagai identitas, warisan budaya, serta daya tarik wisata bagi daerah yang akan membawa manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat dan mengangkat prestise Provinsi Sulawesi Tengah.
Ia mengajak semua pihak ikut menjaga dan melestarikan dengan baik harta karun luar biasa ini dengan penuh kebanggaan untuk masa depan dan generasi mendatang.
Senadah dengan hal tersebut, Wakil Ketua III DPRD Provinsi Sulteng H Muharram Nurdin menyampaikan, Hal ini merupakan suatu gagasan Gubernur Sulteng yang patut diapresiasi, karena hal ini bukan hanya sekadar kegiatan pencanangan, akan tetapi ini adalah merupakan sikap gubernur untuk menyampaikan kepada dunia bahwa sesungguhnya peradaban yang tertua itu bersal dari Sulteng, yang keberdaannya seumur di zaman Nabi Musa, pada 3.000 tahun sebelum masehi (SM).
“Oleh karena itu, kita selaku masyarakat Sulteng harus berbangga karena kita telah memiliki peradaban yang sedemikian tua dan masih dilestarikan hingga saat ini,” katanya.



















